Wednesday, 21 December 2016

Santai di Alun - Alun Batu

Alun - Alun Batu
Batu, namanya mirip dengan nama kabupaten kampung halaman saya, Labuhan Batu. Berbeda ya kak, kampung halaman saya terkenalnya karena hamparan kebun sawit sedangkan Batu terkenal karena hamparan tempat wisatanya. Kota administratif di Provinsi Jawa Timur ini berada di jalur yang menghubungkan Malang – Kediri dan Malang – Jombang. Awalnya saya mengira bahwa Batu itu bagian dari Malang. Ternyata salah. Batu itu kota otonom, pemerintahan daerahnya terpisah dari Kota Malang ataupun Kabupaten Malang. 

Kota sejuk yang berjuluk Kota Apel ini dikenal sebagai salah satu kota wisata terkemuka di Indonesia karena potensi keindahan alam yang luar biasa. Bahkan kolonial Belanda dulu mengagumi keindahan dan keelokan alamnya. Kota Batu disejajarkan dengan sebuah negara di Eropa yaitu Swiss dan dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa. Cerita inilah yang membuat saya penasaran dengan Batu. 

Karena itu, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu lebih lama untuk berleha-leha di guest house. Satu jam setelah check in, saya jalan kaki ke alun - alun. Meskipun tadi sudah mampir sebelumnya, saya masih belum puas melihat bagaimana sesungguhnya suasana tempat nongkrong paling hits ala masyarakat lokal. Alun-Alun, inilah ruang terbuka hijau Kota Batu. Ke suatu kota memang tak afdol bila tak berkunjung ke landmark ikonik dari kota tersebut.

Sebagai pejalan kaki, dengan menyusuri Jalan Dipenogoro ke alun-alun, saya cukup dimanja. Trotoar pejalan dibuat dengan bagus. Bahkan ada penanda khusus bagi penyandang disabilitas. Meskipun pada akhirnya saya tetap bersaing dengan lapak-lapak pedangang atau kendaraan yang terparkir di beberapa titik trotoar.

Sampai di alun-alun, saya mencari sudut yang pas untuk santai. Alun – Alun Batu memang tak luas, hanya sekitar 8250 m2. Keempat sisinya merupakan jalan raya. Dua jalan yakni Jalan H. Agus Salim & Jalan Gajah Mada merupakan jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Sedangkan jalan raya pada sisi barat & selatan dari alun-alun lebih difungsikan untuk kawasan parkir, gerai pedagang kuliner yang mulai ramai pada sore hari.

Di tengah alun-alun ada air mancur dengan monumen apel, mencerminkan ciri khas Kota Batu. Begitu mendengar buah apel malang, sebenarnya sentra produksi buah lokal yang terkenal itu ada di Batu. Tempat duduk yang dibuat mengelilingi monumen apel menjadi tempat santai favorit pengunjung. Pohon, bunga, rumput yang terawat membuat suasana lebih sejuk. Datang dengan keluarga, ada wahana bermain khusus anaka-anak di salah satu sudut alun-alun. Bangunan toiletnya unik, berbuat buah apel. Yang mencolok adalah bianglala, untuk naik hanya 3.000 IDR. Jika ingin menikmati keindahan Kota Batu dari ketinggian naiklah bianglala.  

Ahh, sayang saya tak kepikiran untuk naik bianglala. Saya malah melipir ke sebuah lapak pedagang kuliner. Lapar atau doyan, tak perlu waktu lama buat saya menghabiskan 2 tusuk sosis bakar ketika duduk santai di Alun-Alun Batu. Ke sini sendiri, mata tertuju pada remaja yang pacaran di alun-alun, duh dek. Ini bukan rahasia umum lagi bahwa taman kota dijadikan lokasi pacaran bagi muda-mudi. 

Alun - Alun Batu menghadap Jalan H. Agus Salim
Lampion apel
Di tengah Alun - Alun Batu
Bianglala Alun - Alun Batu
Sosis bakar ala Alun Alun Batu
Masjid Agung An Nuur di utara Alun - Alun Batu

----------------------------------------
Peta Lokasi Alun - Alun Batu


No comments:

Post a comment