Wednesday, 3 August 2016

Berwisata Sejarah ke Candi Bahal, Padang Lawas Utara

Jika ada yang bilang bahwa di Sumatera Utara ada candi berumur 1000 tahun lebih, jangan terkejut kak!. Itu memang benar adanya. Pasti penasaran kan bagaimana bentuk nya dan apakah candi tersebut semegah candi-candi popular tanah Jawa?. 

Foto saya di bawah ini menjawab pertanyaan di atas! ....
photo by Dek Ratna
Namanya Candi Bahal dikenal juga dengan nama Candi Portibi atau dalam bahasa setempat dinamakan Biaro Bahal.

Lokasi Candi Bahal….Secara administratif Candi Bahal berlokasi di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara dan berjarak 430 km dari Bandara Internasional Kualanamu, Medan.

Sebenarnya ada puluhan reruntuhan candi yang tersebar di Desa Bahal. Hanya saja hingga kini baru Candi Bahal I, II, dan III yang berhasil dipugar.  Ketiga candi ini lokasinya berdekatan. Dan Candi Bahal I adalah yang terbesar. Ukuran bangunan candi ini memang terbilang kecil namun keunikan dari Candi Bahal terletak pada warna bangunannya yaitu merah bata. Ya’, candi ini memang dibangun dari material batu bata dan diperkirakan dibangun pada abad ke-11.

Ketika membaca penjelasan tentang Candi Bahal di wikipedia saya pun baru ngeh ternyata candi ini berusia lebih tua dari candi Angkor Wat (dibangun abad ke-12) di negara Kamboja. “Saya pun sejenak terdiam ! Masa’ iya Angkor Wat di Kamboja yang terpisah 2300 km jauh di sana saja sudah pernah saya kunjungi sedangkan Candi Bahal yang hanya 154 km dari kampung halaman saya, Rantauprapat belum pernah saya lihat. Padahal dulu sewaktu SD, gambar Candi Bahal seringkali saya pandangi di RPUL, buku favorit saya”. 

Peta Lokasi Candi Bahal I

Cara Menuju Candi Bahal….Letaknya yang terbilang jauh dari ibukota Provinsi Sumatera Utara, sudah bisa kita bayangkan betapa butuh perjuangan menempuh perjalanan darat yang lama. Benar sekali kak! Jika kita berangkat dari Kota Medan setidaknya butuh waktu sekitar 9 jam perjalanan untuk mencapai lokasi Candi Bahal.

Saya tak perlu membayangkan perjalanan darat sejauh itu. Akhirnya keinginan saya untuk menyambangi Candi Bahal baru tercapai ketika cuti lebaran kemaren (Rabu, 13 Juli 2016). Perjalanan pergi pulang dari Rantauparapat ke Candi bahal dalam sehari tentu bisa dilakukan. Menjelang tengah hari, bersama dek ratna dan ayah (masternya jalanan ke arah Tapsel ) yang menyetir mobil, berangkatlah kami ke sana.

Perkiraan ayah tak melesat, kami yang berangkat tengah hari dari Rantauprapat, sampai di sana pukul 15.20 WIB. Butuh waktu perjalanan sekitar 3,5 jam (sudah termasuk waktu beristirahat, berhenti sejenak 20 menit di tengah perjalanan). Berkendara menyusuri Jalan Lintas Timur Sumatera via Kota Pinang menuju Gunung Tua, ibukota Kabupaten Padang Lawas Utara. Kabupaten yang dulunya bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan (pemekaran tahun 2007). Dari pusat kota yakni Pasar Gunung Tua, ambillah jalan menuju arah Binanga. Di google map dikatakan Jalan Sibuhuan – Gunung Tua. Sekitar 17 km setelahnya kita akan menemukan sebuah plang besi penunjuk arah di sisi kanan jalan. Hanya 800 meter lagi!. Di tengah-tengah perkebunan sawit, di sinilah Candi Bahal berada. Potret sepanjang jalan dari Rantauprapat ke Gunung Tua (pergi pulang sehari) lihat di sini.

Kondisi jalan (atas : Jalan Sibuhuan – Gunung Tua, tengah : persimpangan jalan menuju Desa Bahal, bawah : jalan ujung Desa Bahal menuju situs Candi Bahal)

Tiket masuk ke Candi Bahal pun terbilang murah hanya 2.000 IDR saja/orang. Untuk biaya parkir beda lagi (yang sebenarnya tak ada tarif resmi yang ditetapkan pemda, bea parkir di sini dikelola masyarakat lokal).

Plang nama bertuliskan Candi Bahal I menyambut kita ketika memasuki candi ini.

Mengingat usianya yang ribuan tahun. Tentunya candi ini memiliki sejarah yang sangat panjang. Sayangnya di sini saya  tak menemukan satupun papan informasi yang menjelaskan sejarah situs Candi Bahal, tak seperti situs candi bersejarah sebelumnya yang pernah saya kunjungi. Padahal hal ini sangat penting. Sehingga wisatawan yang datang berkunjung ke sini, tak hanya sekedar berfoto-foto tetapi juga menambah pengetahuan sejarah kita tentang sejarah panjang yang dimiliki Candi Bahal.

Saya pun mengutip informasi tentang Candi Bahal dari website wikipedia. Candi Bahal merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Panai. Kerajaan Panai atau Pane merupakan kerajaan Budha yang pernah ada pada abad ke-11 sampai ke-14 di pesisir timur Sumatera Utara. Lokasi kerajaan ini tepatnya di lembah sungai Panai dan Barumun. Kerajaan ini kurang dikenal akibat minimnya sumber sejarah dan sedikitnya prasasti yang menyebutkan kerajaan ini.

Si kakak dan adek wefie-an di Candi Bahal
Jadilah kegiatan yang bisa dilakukan di sini yakni menengok ke sekeliling pelataran candi yang luasnya sekitar 3000 m². Santai dan berfoto-foto ria!! Sembari menikmati sejuknya angin yang berhembus sepoi-sepoi di Padang Lawas Utara ini.

Dan berikut adalah potret Candi Bahal I yang saya dokumentasikan;

Pagar bata merah batu  setinggi 60 cm dan tebal sekitar 1 m mengelilingi Candi Bahal I
Mendekatlah ke bangunan utama Candi Bahal I yang terletak di tengah pelataran !
Bangunan utama Candi Bahal I
Dari sisi yang berbeda, Dek Ratna berlatar bangunan utama Candi Bahal I 
Arca batu di dasar tangga bangunan utama Candi Bahal

Keunikan lain dari Candi Bahal I yakni atapnya yang berupa stupa berbentuk silinder, dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Pahatan untaian bunga melingkari tepian atap

Pondasi batu atau panggung berbentuk bujur sangkar  di depan bangunan utama Candi Bahal I

 Sudah lama sekali sejak Candi Bahal terakhir dipugar dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara (Bapak Raja Inal Siregar, 1991).

Sayangnya karena waktu yang sudah sore, membuat kami harus kembali ke Rantauprapat. Belum sempat berkunjung ke Candi Bahal II (padahal jaraknya hanya 1 kilometer dari Candi Bahal I)dan Candi Bahal III. Semoga di lain waktu ya kak! “Ada yang mau berkunjung ke sini?”.

No comments:

Post a comment