Wednesday, 15 March 2017

3 Hari di Purwakarta

Tak perlu bingung bila ingin mencari destinasi liburan dimana maunya ngetrip tak jauh atau daerah yang dekat Jakarta. Antara Jakarta & Bandung ada Purwakarta. Ibukota dari Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat ini berjarak sekitar 90 km sebelah tenggara Jakarta & 60 km sebelah barat daya Bandung. Tak jauh, naik kereta api non stop dari Jakarta hanya butuh perjalanan 1,5 jam. Purwakarta punya pesona yang mantap saya mengatakan istimewa.

Purwakarta
Cerita jalan – jalan ke Purwakarta berawal dari obrolan whatsapp ngalor-ngidur dengan Septi, yang kebetulan juga lagi cuti. Gak mikir lama-lama, sepakat lah kita jalan – jalan ala flashpacker ke Purwakarta lanjut ke Kota Bandung. Durasi perjalanan pun tak lama, 3 hari/2 malam di Purwakarta & 1 hari/1 malam di Bandung. Saya berangkat sehari lebih awal naik kereta dari Jakarta sedangkan Septi berangkat dari kampung halamannya Purwokerto, sepakat ketemuan di Purwakarta. Tak banyak persiapan, tiket kereta baru beli sehari sebelum keberangkatan bahkan penginapan pun baru booking beberapa jam sebelum tiba di Purwakarta. Meskipun demikian perjalanan dadakan selalu punya cerita tersendiri. 

Sempat kepikiran untuk naik Kereta Api (KA) Lokal Jakarta - Purwakarta yang ongkosnya murah meriah, hanya 6.000 IDR saja, berangkat dari Stasiun Jakarta Kota (Desember, 2016). Karena tak dijual online, saya tak begitu yakin bisa dapat tiket langsungnya di stasiun. Jadi lah naik kereta yang pasti-pasti saja. Yakni naik KA Serayu Pagi yang berangkat pukul 09.00 pagi. Booking nya via aplikasi android KAI Access. Naik KA kelas ekonomi AC ini harga tiketnya 74.500 IDR, berangkat dari Stasiun Pasar Senen. "Harganya sama dengan ongkos kereta ke Purwokerto -_-". Mungkin lain kali saya akan coba naik KA Lokal Jakarta – Purwakarta. Sebagai referensi pilihan kereta api dari Jakarta ke Purwakarta klik di sini.

Kemana saja selama 3 hari di Purwakarta, berikut ringkasan perjalanan saya selama di sana.

Hari pertama (03/12/2016)....Tiba di Stasiun Purwakarta pukul setengah sebelas pagi, saya jalan kaki ke tempat saya menginap, check in & sejenak beristirahat. Sore hari barulah saya mulai jelajah kawasan pusat Kota Purwakarta. Untuk soal penginapan, saya memilih hotel di pusat kota supaya mudah menjangkau wisata ikonik Kota Purwakarta yakni Hotel Intan Purwakarta. Menginap di kamar tipe standar dengan harga per malamnnya  190.000 IDR (standar untuk 2 orang, termasuk sarapan pagi). Berbagai pilihan hotel di Purwakarta, silahkan check di aplikasi traveloka mu! 

Mulai dari Stasiun Purwakarta, Taman Air Mancur Sri Baduga (Taman Citra Resmi), Taman Cerdas Surawisesa, Alun – Alun Purwakarta (Taman Maya Datar & Taman Pancawarga), hingga ke Masjid Agung Purwakarta. Inilah destinasi wisata ikonik Kota Purwakarta yang saya kunjungi. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan jalan kaki. Tak perlu khawatir karena kota ini sangat ramah buat pejalan kaki. Secara personal saya suka dengan suasana Kota Purwakarta. Kotanya bersih, teratur dan punya taman kota yang keren pisan. Kota Purwakarta adalah potret kota yang lekat dengan identitas budaya lokal, keasriannya indah dipandang mata.

  
Menyusuri Jalan K.K Singawinata, Purwakarta

  
Jalur khusus pejalan kaki di Jalan Ganda Negara menuju Taman Air Mancur (kiri)
Duduk-duduk di kursi trotoar Jalan Siliwangi, memandang ke arah Taman Air Mancur (kanan)

      
Taman Maya Datar & Taman Pancawarga dalam satu kawasan Alun - Alun Purwakarta

Sore di Masjid Agung Yusuf Purwakarta
Jalan Ganda Negara yang dihiasi lampion khas Purwakarta beserta bendera berbagai negara

Capek jalan kaki, saya mampir di sebuah pedagang kaki lima tak jauh dari Taman Air Mancur, makan semangkuk mie ayam ceker kesukaan saya. Setelah selesai menjelajah destinasi wisata ikonik Purwakarta, saya kembali kulineran lagi. Jangan lewatkan untuk mencicipi lezatnya kuliner tersohor khas Purwakarta. Ya, sate maranggi. Mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran penjual sate maranggi sangat mudah ditemukan di kota ini.

Seporsi mie ayam ceker ini dibanderol dengan harga 11.000 IDR
Seporsi sate maranggi ini dibanderol dengan harga 26.000 IDR (termasuk seporsi nasi)

Akhir pekan menjadi waktu yang tempat bila ingin jalan – jalan ke Purwakarta. Ada pertunjukan air mancur terbesar se Asia Tenggara di Taman Air Mancur Sri Baduga setiap malam minggu, gratis. Katanya keindahan atraksi air mancur ala Purwakarta ini gak kalah dengan pertunjukan Song of The Sea (kini Wings of Time) di Singapura sana. Inilah salah satu ikon Purwakarta yang membuat saya penasaran. Sayangnya ketika saya berkunjung ke sini, Taman Air Mancur sedang direnovasi. Update info ; kini destinasi wisata andalan Purwakarta itu sudah bisa dinikmati kembali, selesai renovasi bulan Februari 2017 yang lalu.

Tak bisa melihat atraksi air mancur, saya malah berkesempatan melihat semaraknya wisata kuliner Purwakarta malam mingguan di sepanjang jalan Jalan K.K Singawinata &  Jalan Siliwangi, antara Taman Sri Baduga Situ Buleud & Gedung Kembar. Seru, kawasan ini disulap menjadi tempat jajanan khas Purwakarta. Favorit saya yakni makan tahu bulat pedas, per bijinya hanya 500 IDR. Yang buat acara ini menarik, ada pangung seni terbuka. Menampilkan pertunjukan berbagai tarian tradisional  oleh anak-anak sanggar kesenian Purwakarta dan juga penampilan penyanyi lagu Sunda. Acaranya dipandu oleh pembawa acara full dalam bahasa Sunda. "Walaupun saya roaming tak mengerti artinya, nyatanya saya betah mengikuti pentas seni ini. Apalagi acaranya sangat menarik. Jarang - jarang kan saya nonton kesenian Sunda, gratis pula. Hehe ". Benar-benar Purwakarta Istimewa, pemerintah daerah nya punya acara merakyat yang oke punya, patut diacungin jempol. 

  
  
Panggung seni wisata kuliner Purwakarta, 3 Desember 2016

Hari kedua (04/12/2016)....Meskipun Septi baru saja tiba di Purwakarta dini hari tadi dan baru sebentar tidur, dia mah setuju ketika saya ajak hari ini kita akan jalan ke Waduk Jatiluhur. Berada 10 km di luar Kota Purwakarta, kita ke sana dengan naik transportasi umum (angkot). Caranya, dari jalan raya seberang hotel naik angkot nomor 04 ke Terminal Ciganea (ongkos 3.500 IDR/orang). Kemudian dari Terminal Ciganea lanjut naik angkot nomor 11 hingga ke pemberhentian terakhir Waduk Jatiluhur (ongkos 7.000 IDR/orang).

Waduk Jatiluhur, di sini lah bendungan PLTA terbesar di Indonesia yang tersohor itu berada. Bentang alam sekeliling Waduk Jatilihur Purwakarta punya pesona yang tak terbantahkan. Naiklah perahu motor menyebrangi waduk menuju perkampungan di selatan. Kemudian naik ojek sepeda motor, menjelajah wilayah perbukitan/pegunungan. Dari sini panorama Waduk Jatiluhur punya sudut pandang keindahan yang belum banyak terekspose media sosial. Berlatar 3 gunung ikonik yakni Gunung Lembu, Gunung Bongkok & Gunung Parang. Ketiganya merupakan destinasi wisata alam andalan Purwakarta, khususnya bagi pejalan yang menyukai aktivitas menantang seperti trekking.

  
Naik perahu motor, menikmati panorama Waduk Jatiluhur

Potret Gunung Lembu dari Waduk Jatiluhur  

Motivasi saya ke sini kali ini bukan ingin trekking tetapi ingin melihat Desa Sajuta Batu, Kampung Cilonggohar, Desa Pesanggrahan. Penasaran dengan postingan gambar instagram sahabat saya Selly yang berkunjung ke sana sebelumnya. Dalam postingannya dia mengcaption Purwakarta punya pemandangan yang katanya buat kita bernostalgia dengan gambar legendaris aka gambar andalan ketika kita SD dulu. Sebuah jalan raya mengarah ke gunung dimana kiri kanan jalan merupakan persawahan. 

MashaAllah, ternyata panorama ini nyata ada di Purwakarta. Malah lebih dramatis dengan adanya hamparan batu - batu cadas besar di area persawahan itu. Tetapi untuk ke sana, saya & Septi butuh perjuangan kesabaran, naik ojek menyusuri jalan kampung yang tak semuanya berkondisi bagus, sempat tersesat dan bertanya sana - sini. Padahal si kang ojek kami adalah warga lokal dari Kampung CiterbangDesa Panjinangan, desa sebelahnya Desa Pesanggrahan. Mereka saja pun tak tahu dimana lokasi yang di dunia media sosial dinamakan Sajuta Batu itu. Kurang informasi, mengapa sebelumnya saya tak bertanya sama Selly. Yak, itulah seninya jalan - jalan ke Desa Sajuta Batu, destinasi wisata alam yang masih alami, belum tersentuh tangan-tangan komersil. Harus pintar - pintar menawar ongkos naik perahu motor menyebrangi & ojek.
"Perjuangan sekali buat ke sini ya Sep!" :)
  
Potret Waduk Jatiluhur dari Sajuta Batu

Nah ini lah gambar legendaris itu
Desa Sajuta Batu, Kampung Cilonggohar, Purwakarta

Sore hari kami kembali ke Kota Purwakarta, kali ini  tak lagi naik perahu motor. Kali ini dengan meminta kang ojek yang kami tumpangin tadi untuk menjemput kami di Sajuta Batu. Kemudian mengantarkan kami jauh – jauh 24 kilometer ke Pasar Anyar Sukatani. Kondisi jalan raya perkampungan sini ahh tak perlu dijelaskan lagi kak, siap - siap buat kaki pegal. Jalan naik, turun, menikung & mendaki sudah biasa. Dari Pasar Anyar Sukatani, kami lanjut naik angkot berwarna hijau muda ke pusat Kota Purwakarta. Pulang, turun di Jalan Basuki Rahmat tepatnya gerbang Intan Hotel. Hahh, benar - benar hari yang melelahkan demi untuk melihat Desa Sajuta Batu.

Hari ketiga (05/12/2016)....Berhubung Septi belum sempat melihat destinasi ikoniknya Kota Purwakarta, saya pun mengajaknya ke Alun - Alun. Sekalian check out, kita naik angkot nomor 05 (ongkosnya 4.000 IDR/orang). Foto - foto di Alun – Alun Purwakarta lanjut jalan kaki ke kawasan Taman Air Mancur Sri Baduga. Tengah hari kita harus berada di Stasiun Purwakarta. Beli tiket KA Lokal Cibatu langsung di loket. Jalan - jalan kami berlanjut ke Kota Bandung.

Hatur nuhun pisan, Purwakarta :)
photo by Anissa Septi N

No comments:

Post a comment