Sunday, 4 September 2016

Dari Tawau ke Nunukan


Senin, 18 Juli 2016…. Siang ini saya pulang ke Indonesia melalui Pulau Nunukan. Momen ini sekaligus menjadi pengalaman pertama kalinya bagi saya melintasi batas negara Malaysia - Indonesia melalui jalur laut.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, langit bandar Tawau pagi ini pun cerah. Dengan langkah kaki mantap, saya meninggalkan Economy Hostel menuju Pelabuhan Tawau. Dua hari di sini, membuat saya sudah sangat hapal jalan menuju pelabuhan. Tak jauh! Melewati Pasar Tanjung Tawau kemudian melewati bangunan baru Tawau Ferry Terminal hingga sampai lah saya di Pasar Ikan Tawau.  

Saat ini Pelabuhan Internasional Tawau masih melalui bangunan pelabuhan lama yang lokasinya bersebelahan dengan Pasar Ikan Tawau. Begitu sampai di sini, kesan awal yang terlihat adalah suasana nya yang semrawut. Para calon penumpang berdiri, memadati bagian luar depan jejeran loket agen tiket kapal. Menunggu panggilan disuruh masuk ke dalam bangunan pelabuhan. Siapa sangka, bangunan berpagar sederhana di ujung jalan yang menjorok ke laut itu adalah pintu masuk/keluar negara Malaysia.

Imigrasi Pelabuhan Tawau
Sebenarnya jadwal kapal saya masih lama. Di tiket tertera keberangkatan MV Labuan Express 5 ke Nunukan pada pukul 11.30. Saya pun menunggu di samping loket Bumiputra, tempat saya membeli tiket kapal.
Menunggu di depan jejeran loket agen tiket  kapal laut di Pelabuhan Tawau
Semakin siang, semakin gerah. Bau keringat manusia semakin kentara. Pemandangan tumpukan koper/tas besar dimana-mana. Hiburan pada saat menunggu seperti ini adalah mendengarkan macam-macam dialek bahasa percakapan dari orang-orang di sekitar saya. Salah satunya begitu tak asing di telinga. Apalagi kalau bukan bahasa Indonesia dialek Tarakan. Pengucapan ”bah” di akhir kalimat, itu tandanya. 

Para pedagang di sini paham betul dengan sering wara-wirinya warga negara Indonesia-Malaysia. Lapak dagangannya tak jauh-jauh dari SIM card (baik itu provider seluler punya Indonesia maupun Malaysia) dan jasa penukaran uang. Kejadian tak mengenakkan dialami seorang calon penumpang. Dia berdiri di persis depan meja kerja seorang agen travel. Tiba-tiba saja si kakak agen tersebut berkata-kata dengan nada yang sangat tinggi. Katanya itu mengganggunya! Si abang (calon penumpang) itu pun meminta maaf dan berpindah tempat berdiri. Namun si kakak masih melanjutkan marahnya, panjang pula. Semua orang di sekitar termasuk saya yang berdiri tak jauh dari tkp hanya bisa melirik diam. Maklum,,mungkin karena saking berjubelnya manusia yang berdiri di sini, sesak! Jadi gampang emosian…

Overload
Entah kapan, nama kapal yang saya tumpangin dipanggil, padahal waktu di handphone menujukkan hampir pukul 11.30. Penumpang akan dipanggil masuk ke gedung imigrasi pelabuhan berdasarkan nama kapal dan jadwal keberangkatan…… Mendekati pukul 12.00 siang, barulah calon penumpang MV Labuan Express 5 disuruh masuk ke dalam gedung pelabuhan. Oh iya, ternyata bukan hanya MV Labuan Express 5, calon penumpang kapal Purnama Express juga dipanggil.

Saya pun bergerak maju sesuai barisan antrian. Menggerek koper, melewati pemeriksaan/scanning barang-barang bawaan. Kami lalu diarahkan menuju ruangan sebelahnya, mengisi kursi-kursi yang ada. Tetap saja overload sehingga sebagian orang harus rela berdiri.

Jadwal keberangkatan yang tertera di tiket sudah lewat namun calon penumpang MV Labuan Express 5 ke Nunukan belum dipersilahkan untuk masuk ke dalam kapal atau paling tidak langsung mengantri untuk urusan imigrasi?. Tak sesuai jadwal alias ngaret. Dan tak ada penjelasan dari petugas pelabuhan. Kenyataannya, kita masih menunggu intruksi selanjutnya. Petugas yang berjaga di pintu masuk ke ruang imigrasi pun masih belum terlihat.

Selagi menunggu…saya pun mengobrol dengan seorang ibu di sebelah saya. Saya penasaran dengan barang bawaan beliau yang sangat santai. Hanya sebuah tas tenteng dan 2 kantong plastik bening berisi barang kebutuhan sehari-hari (sayur mayur dsb). Ibu yang tinggalnya di Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik bercerita bahwa beliau habis berbelanja di Pasar Tanjung Tawau. Alasan beliau, jauh lebih murah dibanding Sebatik ataupun Pulau Nunukan. Dulu, sewaktu speed boat dari Sebatik langsung ke Tawau masih beroperasi, beliau bahkan lebih sering ke Tawau. Jika ditotalin uang belanja si ibu + biaya transportasi Sebatik-Nunukan-Tawau pp, jatuhnya masih lebih murah dibanding jika si ibuk berbelanja di Pulau Sebatik/ Pulau Nunukan. Saya pun teringat biaya makan siang standar saya selama di Tawau. Jika saya bandingkan dengan Tarakan, harganya bisa setengahnya, jujur lebih murah di Tawau. 

Di Tawau itu biaya hidup lebih murah, harga barang-barang kebutuhan pokok terjangkau, fasilitas kesehatan dan sekolah (negara) ok dan infonya gaji ringgit di Tawau lumayan. “Kebayang kan kak, mengapa Tawau itu sangat menggiurkan bagi masyarakat perbatasan negara kita”. Semoga ini lebih menyadarkan kita untuk lebih memperhatikan pembangunan daerah perbatasan…

Suara petugas membangunkanku dari lamunan…Calon penumpang sudah boleh masuk ke ruang imigrasi keberangkatan. Tapi,,,yang pertama disuruh mengantri di pintu masuk adalah pemegang paspor Malaysia, pemegang paspor hijau setelahnya! Setahu saya, proses imigrasi itu tak ada istilah orang lokal didahulukan baru orang asing, barisan antriannya dipisah dan sejajar. Ini pertama kalinya saya alami!! Jadinya saya pun  harus menunggu lagi, tunggu antrian orang lokal habis. Begini kah nasib pemegang paspor hijau di Imigrasi Tawau. Ada yang pernah mengalami kejadian seperti ini di Tawau? 

Menunggu masuk ke ruangan pemeriksaan imigrasi

Giliran saya diperiksa petugas imigrasi pada pukul 13.00 siang. Tanpa pertanyaan dari petugas saya langsung mendapat cap imigrasi keluar. Saya pun lanjut  berjalan menyusuri jalur lorong pejalan. Sebelum masuk ke kapal, kita harus membayar pass Imigration Tawau  sebesar 5 MYR atau 16.900 IDR.

Bersama penumpang lainnya, saya masuk ke kapal dan langsung mengambil kursi barisan tengah bagian tengah. Ya, Penumpang memang bebas memilih tempat duduk. Tak ada penomoran kursi! Kapal pun bergerak meninggalkan daratan Tawau pukul 13.30.

………….
Tiket kapal laut Tawau-Nunukan saya

Konyol!!…. Dalam perjalanan naik kapal dari Tawau menuju Nunukan ini lah kekonyolan yang saya alami. Ceritanya…tiket dari agen travel yang saya miliki  ada cap MV Labuan Express 5. Artinya kapal motor yang saya naiki ya MV Labuan Express 5. Ketika baru saja bergerak mengarungi perairan, saya pun melihat ke arah tumpukan pelampung (life jacket) yang berada di atas kursi kedua sisi kapal, labelnya Purnama Express. Nah kak!! “Apa mungkin saya salah naik kapal, karena sewaktu saya naik kapal tadi, ada juga sebuah kapal merapat di sebelahnya”. Saya pun bertanya kepada bapak di sebelah bangku saya. “Pak, ini kapal Purnama Express ke Nunukan kan ?” tanya saya. Beliau pun mengiyakan. Pikiran saya berubah galau. Berusaha mencari solusi…”Tenang Ran, tak apa-apa salah kapal yang penting tujuan tetap sama “Nunukan!” begitulah pikiran saya. Satu hal yang paling dikhawatirkan adalah ketika pemeriksaan tiket oleh petugas. Dari kursi depan, petugas mulai memeriksa. Sebentar lagi barisan kursi saya…”Jika ketahuan sama petugas, pura-pura saja syok…baru tahu tiket yang saya punya adalah Labuan Express. Tak mungkin juga diturunkan di tengah laut!!” begitulah pikiran saya… Akhirnya giliran saya, menyerahkan tiket…..dan dalam hitungan beberapa detik bapak petugas menyerahkannya lagi ke saya. “Hahhh,,untunglah!!”.  Kalau saja bapak petugasnya teliti memeriksa nama kapal yang seharusnya saya naik, entah apa yang akan terjadi.

Kondisi fisik di dalam kapal sedikit klasik aka tua

Hahhh,,lupakan kegalauan konyol saya! Mari menghayati perjalanan ini!. Saya pun melemparkan pandangan ke luar jendela buram kapal ini. Samar-samar, panorama di sebelah kiri kapal ini, perairan berlatar daratan di ujung titik pandang. Tebakan saya, itu Pulau Sebatik. Suara deru mesin kapal menjadi musik pengiring perjalanan ini. Saya pun kembali berbincang dengan bapak sebelah saya. Dari cerita beliau, saya baru mengetahui bahwa ada tiket Nunukan-Tawau (pergi pulang), harganya 300.000 IDR. Jauh lebih murah dibanding tiket yang saya pegang Tawau-Nunukan (one way), harganya 75 MYR atau sekitar 253.000 IDR. Nah ini bisa menjadi referensi kak, next time dari Nunukan ke Tawau, langsung saja membeli tiket pp di loket agen resmi pelabuhan.

Di dalam kapal ini, ada pedagang berjalan yang menjual makanan ringan dan minuman. Haus, belilah sebotol air mineral 600 ml, harganya 2 ringgit. Transaksi pembayaran bisa juga menggunakan rupiah. 

Menantikan munculnya sinyal Telkomsel Indonesia…Menurut informasi si bapak sebelah saya, sebentar lagi sinyal Telkomsel akan muncul. Nah,, ini tanda bahwa tak lama lagi kapal akan memasuki wilayah laut teritorial Indonesia. Pedagang berjalan muncul menjajakan  SIM card Indonesia ini. Dan… saya pun menengok ke layar handphone, pukul 14.42…jaringan seluler berubah menjadi tanda edge! Tidak stabil, masih hilang muncul. Yayy, secara tak resmi saya sudah berada di wilayah NKRI.

Di sini, ada jasa penukaran uang di kapal ini dengan kurs (Juli, 2016) 1 MYR setara dengan 3.200 IDR. Rates nya sangat bagus, tak kalah dengan money charger resmi di luar sana. Si bapak pemilik money charger berjalan, sangat cekatan menukarkan lembaran uang ringgit ke rupiah. Ketika uang yang ditukar dalam jumlah besar, beliau hanya menggunakan kalkulator cabe untuk menghitung.

Hampir satu setengah jam sudah lama perjalanan ini. Jam di handphone menujukkan pukul 15.10 sore ketika kapal merapat. Penumpang beranjak dari kursi. Masing-masing membawa barang bawaanya. Tak ketinggalan porter-porter ikut masuk dalam riuhnya penumpang yang memasuki pelabuhan. Mereka menawarkan jasa nya. Saya pun terus berjalan, mendekati plang bertuliskan “Selamat Datang di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan” di ujung jembatan. Belok kiri, mengantarkan kita menuju bagian pemeriksaan imigrasi Nunukan.

Kapal motor merapat di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan
Jembatan pelabuhan yang sederhana
Menuju loket keimigrasian

Kondisi konter imigrasi kedatangan di sini memang tak sebagus Tawau. Bukan sebuah gedung tertutup. Tempat mengantri berada di ruangan terbuka. Malah bisa dibilang mirip seperti loket pembayaran tiket. Tak banyak petugas imigrasi yang wara-wiri di sini. Tak ada strerilisasi ruangan!. Ketika saya dalam barisan antrian, beberapa orang dari luar yang bukan penumpang ataupun bukan petugas pelabuhan berseragam bahkan dengan bebasnya berkeliaran di sini. Ada yang menawarkan hotel ataupun tiket speedboat ke Tarakan.

Meskipun dengan segala kekurangan/lemahnya pengawasan imigrasi kedatangan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan ini, satu hal yang membuat saya bangga adalah pelayanannya. Di sini tak, ada pendahuluan antara orang lokal dan orang asing. Sama-sama mengantri dalam barisan yang dibuat terpisah dan sejajar. Bukan seperti di Imigrasi Tawau yang tadi saya alami!. 

Mengantri di Imigrasi Kedatangan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan
Paspor saya pun akhirnya ada cap imigrasi kedatangan Nunukan, Indonesia! Seketika ada rasa bahagia dalam diri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi ketika melihat merah putih berkibar di langit tempat saya berpijak kini. Meskipun kehidupan di negara tetangga begitu menggiurkan tetapi hidup di negara sendiri tetaplah selalu dirindukan, itu menurut saya!.

Selamat datang kembali di Indonesia kak :)
Peta Lokasi Pulau Nunukan, Indonesia (sumber gambar : google map)

No comments:

Post a comment