Saturday, 7 March 2015

Drama Gunung Ijen #Part1

Dibanding destinasi happy travel mates sebelumnya (Menjangan dan Baluran), Gunung Ijen adalah destinasi yang penuh dengan drama. Kesialan dan musibah mewarnai cerita perjalanan kami mulai dari berangkat ke Paltuding, mendaki menuju Puncak Ijen, hingga kembali ke Banyuwangi . 

"Paltuding (1.835 mdpl) merupakan pos pendakian pertama ke puncak Gunung Ijen (2.443 mdpl)".


Peta Lokasi Paltuding, Banyuwangi


Check di google jarak dari kota Banyuwangi ke Paltuding yaitu kurang lebih 38 km. Info dari berbagai sumber menyebutkan bahwa rute dari Banyuwangi menuju Licin (15 km) meskipun kondisi jalan relatif bagus namun di beberapa ruas jalan terdapat jalan yang rusak. Dari Licin menuju Paltuding (18 km) melewati jalan menanjak, 6 km sebelum Paltuding terdapat tanjakan erek-erek yaitu berupa belokan berbentuk S. Harap berhati-hati apalagi saat musim hujan jalanan licin dan merupakan daerah rawan longsor.

Drama Perjalanan dari Banyuwangi ke Paltuding...

Melakukan perjalanan bermotor (konvoi dengan 9 sepeda motor) di malam hari tentunya sangat berbeda dengan perjalanan di siang hari. Kemungkinan terpisah dengan kelompok, kesasar karena penerangan terbatas, dll sangatlah besar. Apalagi ini adalah pengalaman pertama kami semua ke Ijen. 

Kami memulai perjalanan bersepeda motor dari bilangan Jalan Kepiting, Kota Banyuwangi sekitar jam 8 malam. Alasan mengapa kami melakukan perjalanan malam bermotor ke Paltuding adalah karena ingin menyaksikan momen blue fire kawah Ijen yang hanya dapat dilihat mulai dari jam 2 dini hari hingga jam 5 subuh.   
...  
Ketika kami melewati salah satu di belokan jalanan kota BanyuwangiBeberapa diantara kami terpisah dari rombongan. Terjadilah drama saling mencari. Kami pun sibuk berkomunikasi via hp agar bisa berkumpul kembali di suatu lokasi yang kami janjikan. Baru melewati jalanan kota Banyuwangi yang memiliki penerangan yang cukup saja kami sudah kelimpungan kakak!! 

Menyadari hal tersebut terjadi karena miss komunikasi. Sebelum melanjutkan perjalanan kami pun menyepakati urutan motor. Sepeda  motor siapa yang paling depan (sebagai perintis jalan & pemandu motor-motor yang ada dibelakangnya), bagian tengah, dan paling belakang. Diatur sedemikian rupa sehingga diantara kami tidak ada yang terpisah dari rombongan. Pengaturan ini sangat efektif sepanjang perjalanan kami dari kota Banyuwangi hingga daerah Licin.

Meminta bantuan dari satu dua mobil yang kebetulan lewat tetapi hasilnya nihil. Akhirnya 2 orang dari kami pergi  bermotor ke Paltuding, membeli bahan bakar dan mencari mobil bak terbuka untuk membawa motor kami yang bannya pecah.  Sisanya menunggu!!15 menit berlalu....Mulai khawatir jikalau terjadi apa-apa dengan 2 orang teman kami tersebut.

Di tengah kesunyian dan gelapnya hutan...Kami kerjalan kaki melalui jalan menanjak..Jalan datar....Kemudian menanjak lagi....Terkadang mempercepat langkah kaki ketika terdengar suara-suara aneh...

Beberapa ratus meter kemudian... Satu motor masih bisa dipaksakan berjalan (mudah-mudahan sampai ke Paltuding) , Athi pun ikut motor tersebut. Tinggallah saya cewek seorang dan cowok berlima . Entah sudah berapa lama & berapa kilometer kami berjalan kaki….Teman yang duluan ke Paltuding tak kunjung kembali…Kendaraan yang lewat tak kunjung datang…Berjalan kaki di saat udara dingin, keringat saya bercucuran….Anggap saja sebagai pemanasan sebelum trekking ke puncak Ijen.

Melewati daerah Licin, kondisi jalan mulai menanjak, gelap dan sangat sepi. Sampai kilometer kesekian, perjalanan kami masih baik-baik saja. Tibalah kami pada sebuah jalan menanjak yang sangat terjal. Apes!! hampir semua motor matic kami tidak mampu melewati medan ini. Kami yang dibonceng harus berjalan kaki menuju jalan di atas yang lebih datar #lol. 

Drama tidak sampai di sini kakak!!…Tiba-tiba ban motor salah seorang teman kami bocor. Bukan hanya itu, bahan bakar (fuel) beberapa motor kami sekarat. Berhenti di tengah hutan gelap, sepi dan tak satupun kendaraan yang lewat. Dan itu masih lumayan jauh dari Paltuding. Seketika itu mimik wajah kami berubah datar. Mulai mencari solusi bagaimana kami melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini. 

Tercetus ide dari salah satu kami untuk membagi fuel dari beberapa motor yang full ke motor2 yang bensin nya sekarat . Tapi itu tidak mungkin mengingat medan yang ada di depan jauh lebih ekstrim. Mau meminta bantuan atau mencari info melaui telepon,  sinyal komunikasi di daerah tersebut ternyata tidak ada… Cuaca berasa dingin…hanya terdengar suara angin..Ahh horor sudah kakak!!

Karena segala pemikiran khawatir yang membuat kami panik!! Kami tidak bisa menunggu begitu saja. Beberapa diantara kami pergi menyusul.

Jalanan sepi...Dingin....Gelap...hanya ada cahaya dari lampu motor kami...Mulai terdengah bunyi aneh dari dalam hutan...

Singkatnya.... Yang menunggu di sini : cewek berdua (saya dan Athi) dan cowok berenam (saya lupa siapa saja, saking gelapnya saat itu kakak!!). Dan 3 sepeda motor ( ban bocor dan sekarat fuel ). Daripada menunggu, kami pun berinisiatif berjalan kaki lebih ke depan. Sembari mendorong motor-motor yang sekarat tadi. Berharap di depan sana kami mendapat sinyal hp. Berharap ada mobil bak terbuka yang lewat dan kita nebeng. Meskipun itu semua sangat kecil kemungkinannya.

Mungkin teman-teman saya ini tidak tega melihat saya seorang diri. Ketika ada motor yang lewat, mereka menyarankan saya untuk ikut. Adalah seorang bapak penambang belerang yang katanya juga akan ke Paltuding saat itu. Namun saya memutuskan lebih baik berjalan kaki bersama teman-teman saya ini daripada saya berdua naik motor dengan bapak yang baru saya kenal. Pikiran sudah horor aja saat itu kak!!
………
Akhirnya bantuan yang ditunggu-tunggu datang juga. Kami yang berjalan kaki dijemput dan motor yang bocor ban dinaikkan ke atas mobil bak terbuka menuju Paltuding. Bergabung dengan teman-teman kami yang sudah menunggu di sana…

Bersambung…ke Drama Gunung Ijen #Part2

Happy Travel Mates Sesaat Sebelum Trekking ke Puncak Gunung Ijen

No comments:

Post a comment